Oleh: Dinn Wahyudin

Salah satu suku yang mendiami wilayah Merauke adalah Orang Asli Papua (OAP) masyarakat lokal yaitu suku Kanum atau Kanume. Kelompok etnis ini mendiami kawasan Taman Nasional Wasur, sebuah Kawasan hutan nasional yang sangat luas dan terletak di dataran rendah dengan topiografi rawa rawa, hutan, dan padang luas savana. Suku Kanum ini bermukim di perkampungan hutan atau di tepian rawa rawa yang membentang luas di wilayah Kabupaten Merauke sampai perbatasan dengan Papua Nugini. Suku Kanum diyakini sebagai bagian dari sub suku Marind, namun mereka memiliki bahasa daerah (mother tongue) atau bahas ibu tersendiri, yaitu Bahasa Kanum. Dalam kekeluargaan masyarakat Kanum terdapat beberapa marga antara lain Ndimare, Sanggra, mayuwa, Gelambu. Mereka umumnya tinggal di Kawasan Taman Nasional Wasur. Dalam kehidupan sehari hari, mereka mendiami kampung kecil samping rawa atau di hutan pinggiran Taman Nasional Wasur.
Seperti dituturkan Ketua Adat Kampung Yanggandur Rawa Biru, bapak Herman B Mbanggu, untuk mencukupi kehidupan sehari hari, suku Kanum umumnya bermata pencaharian berburu hewan liar, yang banyak hidup di kawasan hutan antara lain babi hutan, rusa, dan satwa sejenis kanguru atau walabi. Anak laki-laki remaja dibawa orangtuanya ke hutan, bagaimana cara berburu hewan liar. Ketika ayahnya mengintip hewan liar, anak laki lakinya mengikuti dari belakang. Mereka mengendap ngendap, dan ketika bertemu dengan hewan liar, dengan cekatan ujung panah melesat mencapai target sasaran. Dalam beberapa menit ujung panah atau tombak menempel di badan babi hutan atau rusa, sampai akhirnya binatang buruan tersebut tersungkur lunglai kehabisan darah.
Untuk memenuhi makan pokok keluarga, seperti dituturkan Ketua Adat Kampung Yanggandur Rawa Biru, bapak Herman B Mbanggu, Masyarakat suku Kanum Ketua Adat Kampung Yanggandur Rawa Biru, bapak Herman B Mbanggu mengambil tanaman yang tumbuh subur dari alam seperti sagu dan ubi ubian. Mereka sudah mencoba membudidayakan tanaman sagu dan umbi-umbian seperti gembili. Jenis tanaman tersebut masih dikategorikan sebagai makanan pokok. Di beberapa kampung, masyarakat adat suku Kanum sudah mulai membudidayakan ubi kayu dan menanam pohon pisang.
