LITERATURE REVIEW: PENGARUH MOTIVASI SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN PADA PENDIDIKAN VOKASI

Oleh : Raditya Fardiansyah1, Muhammad Rajab Danuwiria2, Suci Hastika Damayanti3

ABSTRAK

Latar Belakang: Motivasi siswa adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran, tingginya tingkat motivasi tersebut akan menciptakan proses pembelajaran dengan kualitas yang baik.  Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh motivasi siswa terhadap proses pembelajaran dalam pendidikan vokasi. Metode: studi literatur tahun 2010 sampai 2020. Data didapat dari database Science and Technology Index dengan kata kunci vokasi, pendidikan vokasi, motivasi. Hasil: peningkatan motivasi siswa dipengaruhi beberapa metode pembelajaran diantaranya Problem Based Learning, Blended Learning, EFI Scanner, Pre-defined set, dan Media Animasi. Kesimpulan: motivasi siswa terus meningkat setelah dillakukan beberapa metode pembelajaran yang menarik bagi para siswa.

Kata kunci: Motivasi, Pembelajaran, Pendidikan Vokasi

 

ABSTRACT

Background: Student motivation is one of the factors that influence the quality of learning, the high level of motivation will create a good quality learning process. Purpose: This study aims to determine how much influence student motivation has on the learning process in vocational education. Methods: literature study from 2010 to 2020. Data obtained from the Science and Technology Index database with the keywords vocational, vocational education, motivation. Result: increasing student motivation is influenced by several learning methods including Problem Based Learning, Blended Learning, EFI Scanner, Pre-defined Set, and Animation Media. Conclusion: student motivation continues to increase after implementing several interesting learning methods for student.

Keywords: Motivation, Learning, Vocational Education

 

PENDAHULUAN

 

Belajar merupakan aktivitas peserta didik sebagai subjek didik yang berusaha mendapatkan perubahan tingkah laku. Belajar yang mempunyai tujuan jelas akan membuat peserta didik memahami pengetahuan atau keterampilan yang akan mereka peroleh setelah proses belajar selesai. Pemahaman peserta didik tentang tujuan belajar akan menimbulkan minat peserta didik untuk belajar. Minat yang tinggi merupakan indikator bahwa motivasi peserta didik untuk belajar juga tinggi. (Djuniadi, 2013).  Menurut Sjukur (2013) motivasi adalah proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Membangkitkan minat dari peserta didik merupakan teknik untuk meningkatkan motivasi. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar dengan cara Pre-defined set, Problem-Based Learning, EFI Scanner, Metode Animasi, dan Blended learning.

Pre-defined set adalah cara untuk merealisasikan cita-cita atau harapan individu dengan membuat kalimat motivasi. Kalimat motivasi tersebut disesuaikan dengan keinginan setiap individu agar dapat belajar lebih giat.  Pre-defined set ini didasari oleh teori Maslow yang mengatakan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkat yang paling tinggi. (Djuniadi, 2013).

Problem-Based Learning atau PBL merupakan pembelajaran aktif progresif dan pendekatan pembelajaran berpusat pada masalah yang tidak terstruktur yang digunakan sebagai titik awal dalam proses pembelajaran. Secara singkat PBL adalah pemberian masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kepada peserta didik kemudian secara berkelompok mencari alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. (Wulandari & Surjono, 2013). Problem Based Learning ini dapat diterapkan pada peserta didik yang mengambil jurusan Elektronika Industri.

Selain itu Problem Based Learning dapat dimanfaatkan oleh peserta didik yang mempelajari perbaikan dan setting ulang sistem PC yang terdiri dari mendiagnosa kerusakan pada PC, menemukan dan mengisolasi permasalahan, melaksanakan perbaikan dan memeriksa hasil perbaikan PC. Melalui PBL siswa memperoleh pengalaman dalam menangani masalah-masalah yang realistis, dan menekanan pada penggunaan komunikasi, kerjasama, dan sumber-sumber yang ada untuk merumuskan ide dan mengembangkan keterampilan penalaran. (Nafiah & Suyanto, 2014).

Dalam dunia otomotif semakin canggih teknologi yang digunakan oleh kendaraan, maka semakin rumit mempelajarinya sehingga memerlukan ketelitian dan keakuratan pada saat melakukan perawatan dan perbaikan. Salah satunya ialah sistem EFI yang terus berkembang. Salah satu cara untuk mempelajarinya menggunakan EFI Scanner. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bengkel modern yang sudah menggunakan EFI Scanner sebagai alat bantu untuk memperbaiki kendaraan yang menggunakan sistem EFI (Electronic Fuel Injection). (Adnyana & Suyanto, 2013)

Salah satu metode pengajaran pada materi sistem kelistrikan otomotif yang digunakan adalah penggunaan media animasi dalam penyampaian konsep kelistrikan pada standar kompetensi memperbaiki sistem starter dan pengisian, serta standar kompetensi memperbaiki sistem pengapian khususnya pada kompetensi dasar, yakni mengidentifikasi sistem dan komponennya. Penggunaan media animasi pada pembelajaran dapat memudahkan penerimaan suatu pelajaran dan menumbuhkan maupun meningkatkan motivasi belajar siswa. (Sukiyasa & Sukoco, 2013). Hal ini didukung oleh pernyataan Aksoy (2012) yaitu  metode animasi lebih efektif daripada metode pengajaran secara tradisional dalam menaikkan hasil belajar siswa.

Blended learning sebagai kombinasi karakteristik pembelajaran tradisional dan lingkungan pembelajaran elektronik atau Blended learning. menggabungkan aspek Blended learning (format elektronik) seperti pembelajaran berbasis web, streaming video, komunikasi audio synchronous dan asynchronous dengan pembelajaran tradisional “tatap muka”. Selain Blended learning ada istilah lain yang sering digunakan di antaranya Blended learning dan Hybrid learning. Blended learning ini dapat diterapkan pada peserta didik yang mengambil Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. (Sjukur, 2013)

Metodologi Penelitian

Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah motivasi siswa. Pengambilan motivasi siswa sebagai objek penelitian memiliki beberapa alasan sebagai berikut:

1.      Adanya motivasi yang beragam dapat memengaruhi pembelajaran pada pendidikan vokasi.

2.      Upaya meningkatkan motivasi siswa dapat dilakukan melalui berbagai macam cara.

Metode Penelitian

–          Research Question.

Research Question atau pertanyaan penelitian dibuat berdasarkan kebutuhan dari topik yang dipilih. Berikut ini adalah pertanyaan dalam penelitian ini:

RQ1. Apakah motivasi siswa dapat memengaruhi pembelajaran pada pendidikan vokasi?

RQ2. Apa metode yang digunakan untuk meningkatkan motivasi siswa?

–          Search Process

Search Process atau proses pencarian digunakan untuk mendapatkan sumber-sumber yang relevan untuk menjawab Research Question (RQ) dan referensi terkait lainnya. Proses pencarian dilakukan dengan menggunakan search engine (Google Chrome) dengan alamat situs http://sinta.ristekbrin.go.id/

untuk data primer dan https://www.google.com untuk data sekunder.

–          Inclusion and Exclusion Criteria.

Tahapan ini dilakukan untuk memutuskan apakah data yang ditemukan layak digunakan dalam penelitian SLR atau tidak. Studi layak dipilih jika terdapat kriteria sebagai berikut:

1.      Data yang digunakan dalam rentang waktu 2010–2020.

2.      Data diperoleh melalui situs http://sinta.ristekbrin.go.id/ dan https://www.google.com.  

3.      Data yang digunakan hanya berhubungan dengan motivasi siswa dan pendidikan vokasi.

–          Quality Assesment.

Dalam penelitian SLR, data yang ditemukan akan dievaluasi berdasarkan pertanyaan kriteria penilaian kualitas sebagai berikut:

QA1. Apakah paper jurnal ditebitkan pada tahun 2010–2020?

QA2. Apakah pada paper jurnal menuliskan informasi tentang motivasi siswa?

QA3. Apakah pada paper jurnal menuliskan pengaruh motivasi bagi pembelajaran pada pendidikan vokasi?

–          Data Collection.

Data Collection atau pengumpulan data adalah tahap di mana data-data untuk penelitian dikumpulkan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder.

a.      Data Primer

Data primer adalah informasi yang dikumpulkan melalui survei, wawancara, observasi, dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pada penelitian ini data primer yang diambil adalah jurnal-jurnal yang berasal dari http://sinta.ristekbrin.go.id/ dengan alasan sebagai berikut:

1.      Memberikan fasilitas yang lengkap.

2.      Data yang ditemukan mudah dicari,

3.      Memiliki range tahun yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan peneliti.

4.      Data yang ditampilkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

b.      Data Sekunder

Data sekunder digunakan untuk melengkapi data primer, apabila pada data primer hanya terdapat abstrak, maka diperlukan data sekunder untuk melengkapi data primer. Data sekunder diperoleh dengan menggunakan bantuan Google. Pengumpulan data dalam penelitian diperoleh melalui beberapa tahap, meliputi:

1. Observasi (Pengamatan)

Merupakan tahap pengumpulan data melalui pengamatan langsung ke sumber yaitu http://sinta.ristekbrin.go.id/

melengkapi data primer. Data sekunder diperoleh dengan menggunakan bantuan Google. Pengumpulan data dalam penelitian diperoleh melalui beberapa tahap, meliputi:

1. Observasi (Pengamatan)

Merupakan tahap pengumpulan data melalui pengamatan langsung ke sumber yaitu http://sinta.ristekbrin.go.id/

2. Studi Pustaka

Merupakan tahap untuk melakukan studi pengkajian data terkait dengan Metode SLR pada jurnal yang diperoleh dari http://sinta.ristekbrin.go.id/

3. Dokumentasi

Merupakan tahap di mana data yang telah dikumpulkan disimpan ke dalam perangkat lunak

HASIL DAN PEMBAHASAN

Problem Based Learning

Berdasarkan 2 artikel yang dipilih untuk dijadikan sumber penelitian mengenai Problem-Based Learning, artikel pertama menggunakan metode pendekatan kuantitatif yang diterbitkan tahun 2013 dan artikel kedua menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang diterbitkan taun 2014. Masing-masing dari 2 artikel yang dipilih, dibaca dengan cermat untuk mengumpulkan informasi tentang Problem-Based Learning.

Metode Problem-Based Learning bertujuan untuk menghasilkan siswa agar belajar untuk belajar, bekerja sama dalam kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang nyata masalah ini digunakan untuk mengingatkan rasa keingintahuan serta kemampuan analitis dan inisiatif atas materi pelajaran, juga untuk berpikir kritis dan analisis dan untuk mencari dan menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai. Karena Problem-Based Learning adalah lingkungan belajar yang di dalamnya menggunakan masalah untuk belajar, maka masalah diajukan sedemikian rupa sehingga para pembelajar menemukan kebutuhan belajar yang diperlukan agar mereka dapat memecahkan masalah tersebut.

Pada artikel 1, Sebelum penelitian dilaksanakan, langkah pertama yang dilakukan yaitu menguji kemampuan awal subjek penelitian dengan melakukan pretest guna memperoleh data awal kemudian dilakukan pengujian keseimbangan sampel yang akan digunakan untuk penelitian. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik parametrik dengan menggunakan Uji-t dan analisis varians (ANAVA) dua jalan dan dilanjutkan dengan uji Scheffe. Dari data hasil belajar siswa, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Problem-Based Learning lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode pembelajaran demonstrasi. Hasil belajar siswa pada praktik yang

diajar dengan metode PBL juga lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode      pembelajaran konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa metode Problem-Based Learning lebih unggul dibandingkan dengan metode pembelajaran demonstrasi.

Taraf signifikansi yang digunakan pada uji analisis varians dua jalan adalah sebesar 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan kategori motivasi belajar terhadap hasil belajar, karena nilai Sig-nya > 0,05. Oleh karena tidak terjadi interaksi antara metode pembelajaran dan kategori motivasi belajar terhadap hasil belajar maka dapat dinyatakan bahwa pencapaian hasil belajar tidak dipengaruhi secara tidak signifikan

oleh interaksi antara metode pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran dengan motivasi belajar, artinya metode pembelajaran Problem-Based Learning akan memberikan hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode pembelajaran demonstrasi ditinjau dari siswa yang memiliki motivasi tinggi maupun rendah.

Pada artikel 2, pelaksanaan Problem-Based Learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis pada siklus I menunjukkan belum mencapai kriteria, karena persentasenya hanya 68,4% dari yang seharusnya 80%. Ini terjadi karena para siswa masih belum berani mengungkapkan hasil pemikirannya didepan orang lain, sebab khawatir melakukan kesalahan. Lalu, setelah dilakukan pelaksanaan siklus II, persentase keterampilan berpikir kritis siswa mengalami kenaikan menjadi 80,4%. Berdasarkan hasil kenaikan tersebut menunjukkan bahwa kriteria keberhasilan telah tercapai. Meningkatnya keterampilan berpikir kritis tersebut dikarenakan siswa telah dapat menerapkan tahap-tahapan dalam berpikir kritis melalui Problem-Based Learning. Melalui permasalahan yang disajikan dalam Problem-Based Learning siswa dapat lebih terlibat dalam upaya menyelesaikan permasalahan dan terlibat untuk menggunakan keterampilan berpikir kritis.

EFI Scanner

Berdasarkan salah satu artikel yang dijadikan sumber penelitian, siswa sangat antusias dalam melaksanakan praktik karena sudah bisa melakukan EFI Scanner, hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa yang menggunakan EFI Scanner. Akan tetapi, penggunaan EFI  Scanner membuat kegiatan praktik kurang optimal dikarenakan target praktik belum tercapai. Hal ini disebabkan karena siswa lebih banyak menggunakan EFI Scanner karena tampilannya yang menarik.

Indikator motivasi belajar yang diamati dalam penelitian ini meliputi (1) tekun dan ulet menghadapi kesulitan belajar; (2) senang belajar mandiri; (3) selalu ingin berprestasi; dan (4) yakin akan berhasil. Untuk indikator tekun dan ulet menghadapi kesulitan belajar, data yang terkumpul adalah sebesar 88,65%. Indikator senang belajar mandiri data yang terkumpul adalah sebesar 78,57%. Indikator selalu ingin berprestasi data yang terkumpul sebesar 80,42% dan indikator yakin akan berhasil diperoleh data sebesar 80,95%. Rata-rata keseluruhan motivasi belajar siswa adalah sebesar 82,31%. Secara keseluruhan, rata-rata motivasi belajar siswa termasuk kategori tinggi ini terlihat dari rata-rata motivasi belajar yang diperoleh adalah sebesar 82,31%. Hal ini me-nunjukkan bahwa penggunaan EFI Scanner sebagai media pembelajaran

Media Animasi

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa penyampaian materi sistem kelistrikan otomotif yang menggunakan media animasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Melalui media animasi, proses kerja atau prinsip kerja suatu sistem kelistrikan dapat dicermati lebih nyata daripada media gambar diam. Peserta didik dapat mencermati materi lebih nyata terutama suatu proses kerja sistem kelistrikan, yang mana kelistrikan me-rupakan materi yang bersifat abstrak. Motivasi sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar. Proses belajar mengajar di sekolah tidak akan efektif jika tidak ada kesiapan pada siswa untuk belajar. Kesiapan belajar di-antaranya adanya motivasi belajar pada siswa, sehingga segala pelajaran yang diberikan dapat diterima dengan baik. Penelitian me-nujukkan bahwa penggunaan media animasi dalam penyampaian materi sistem kelistrikan memberikan motivasi yang lebih tinggi daripada pembelajaran yang menggunakan media powerpoint. Oleh karena itu, media animasi dapat digunakan dalam menyampaikan materi yang bersifat abstrak khususnya materi sistem kelistrikan otomotif untuk menumbuhkan motivasi belajar.

Materi yang disampaikan melalui media animasi secara lebih jelas dan lebih mendekati nyata dapat meningkat-kan pemahaman peserta didik. Peserta didik lebih mudah menerima materi atau lebih mudah dipahami. Materi pelajaran yang mudah dipahami tentu memberikan hasil belajar yang lebih baik. Dengan demikian, media animasi berkontribusi positif terhadap hasil belajar, Penggunaan media animasi dalam pembelajaran materi sistem kelistrikan otomotif menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan media animasi lebih tinggi dari hasil belajar yang diajarkan dengan media powerpoint. Perbedaan rata-rata nilai menunjuk-kan bahwa media animasi lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan menggunakan media animasi dalam pembelajaran memberikan kemudahan bagi siswa dalam menerima pelajaran yang bersifat abstrak.

Pre-defined set

Motivasi dalam penelitian ini dikembangkan dengan pendekatan Pre defined set dan telah berhasil diimplementasikan. Pendekatan Pre-defined set memberi keleluasan kepada peserta didik untuk memilih kalimat motivasi yang telah disiapkan untuk memotivasi dirinya pada waktu belajar. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa fitur motivasi yang dikembangkan dengan pendekatan Pre-defined set berpengaruh lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar

Berdasarkan data nilai yang diperoleh peserta didik dapat disimpulkan bahwa ada kenaikan skor pada siswa yang melakukan pendekatan Pre-defined set. Hal ini menunjukkan bahwa fitur motivasi  dengan pendekatan Pre-defined set berpengaruh positif terhadap prestasi belajar dalam sistem e-learning.

Blended Learning

Uji hipotesis dalam penelitian pengaruh blended learning terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa tingkat SMK untuk hipotesis 1 dan 2 menggunaan uji F anova untuk hipotesis 3 dan 4 menggunakan paired samples te

Pada perolehan hasilnya hipotesis 1 menghasilkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa yang diajarkan blended learning dibandingkan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional. Rata rata skor motivasi belajar kelas eksperimen sebesar 13,55. Rata-rata skor motivasi belajar setelah pembelajaran lebih besar dibandingkan rata-rata skor motivasi belajar sebelum pembelajaran. Perbedaan rata-rata peningkatan skor motivasi belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 4,74.

Hipotesis 2,3 dan 4 pun memperoleh hasil serupa, bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dan peningkatan motivasi antara siswa yang diajarkan pada pembelajaran blended learning dengan siswa yang diajarkan pembelajaran konvensional. Rata-rata skor hasil belajar kelas eksperimen sesudah pembelajaran lebih tinggi dibandingkan rata-rata skor hasil belajar sebelum pembelajaran. Pada hipotesis 2 pebedaan rata rata peningkatan skor hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 13,39. Setelah menggunakan metode blender learning dalam pembelajaran,ada peningkatan motivasi belajar rata-rata sebesar 13,55 menurut hipotesis 3 dan 38,23 menurut hipotesis 4.

KESIMPULAN

Motivasi siswa  pendidikan vokasi dapat meningkat dengan dipengaruhi beberapa program pembelajaran diantaranya efi scanner,media animasi,predefined set,problem based learning dan blended learning. Dilihat dari nilai siswa yang semakin meningkat setelah adanya pembelajaran efi scanner, media animasi, problem based learning, blended learning, dan predefined set membuktikan model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan motivasi siswa vokasi dalam pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, I. G. M., & Suyanto, W. (2013). Penggunaan EFI Scanner sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan minat, motivasi, dan prestasi belajar siswa. Jurnal Pendidikan Vokasi. https://doi.org/10.21831/jpv.v3i2.160

Aksoy, G. (2012). The Effects of Animation Technique on the 7th Grade Science and Technology Course. Creative Education. https://doi.org/10.4236/ce.2012.33048

Djuniadi, D. (2013). Fitur motivasi pembelajran online dengan pendekatan Pre-defined set. Jurnal Pendidikan Vokasi. https://doi.org/10.21831/jpv.v2i1.1015

Nafiah, Y. N., & Suyanto, W. (2014). Penerapan model Problem-Based Learning untuk meningkatkan keterampilanAdnyana, I. G. M., & Suyanto, W. (2013). Penggunaan EFI Scanner sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan minat, motivasi, dan prestasi belajar siswa. Jurnal Pendidikan Vokasi. https://doi.org/10.21831/jpv.v3i2.1601

Aksoy, G. (2012). The Effects of Animation Technique on the 7th Grade Science and Technology Course. Creative Education. https://doi.org/10.4236/ce.2012.33048

Djuniadi, D. (2013). Fitur motivasi pembelajran online dengan pendekatan Pre-defined set. Jurnal Pendidikan Vokasi. https://doi.org/10.21831/jpv.v2i1.1015

Nafiah, Y. N., & Suyanto, W. (2014). Penerapan model Problem-Based Learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan Vokasi. https://doi.org/10.21831/jpv.v4i1.2540

Sjukur, S. B. (2013). Pengaruh Blended learning terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa di tingkat SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi. https://doi.org/10.21831/jpv.v2i3.1043

Sukiyasa, K., & Sukoco, S. (2013). Pengaruh media animasi terhadap hasil belajar dan motivasi belajar siswa materi sistem kelistrikan otomotif. Jurnal Pendidikan Vokasi. https://doi.org/10.21831/jpv.v3i1.1588

Wulandari, B., & Surjono, H. D. (2013). Pengaruh Problem-Based Learning terhadap hasil belajar ditinjau dari motivasi belajar PLC di SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi. https://doi.org/10.21831/jpv.v3i2.1600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *