Kompetitif Tenaga Kerja Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Bidang Keahlian Arsitektur (1)

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang
menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta
didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu. Bidang yang disediakan oleh SMK di antaranya adalah
jurusan Arsitektur. Tenaga Kerja lulusan bidang arsitektur ini bekerja pada bidang kontruksi dan
pembangunan. Tujuan pengakajian ini untuk mengetahui keterserapan lulusan sekolah menengah
kejuruan di bidang arsitektur serta solusi kedepannya untuk mengatasi permasalahan lulusan sekolah
menengah kejuruan, baik dari sistem pendidikannya ataupun dari perusahaan. Pengkajian ini
menggunakan cara pengumpulan data, dengan mewawancarai lulusan sekolah menengah kejuruan dan
studi literatur mengenai keterserapan tenaga kerja lulusan sekolah menengah kejuruan.

Dewasa ini, tingkat saing dalam pekerjaan semakin ketat karena keahlian semakin bersaing dan
pastinya lapangan pekerjaan membutuhkan tenaga kerja dengan kualitas unggul yang baik agar
memajukan perkembangan dan kinerja perusahaan. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lapangan
pekerjaan yang menetapkan kualifikasi tingkat Pendidikan seseorang.
Saat ini, sudah banyak perusahaan yang menginginkan tenaga kerja dengan tingkat Pendidikan
minimal sarjana tingkat satu, bahkan tidak sedikit yang menginginkan tenaga kerja dengan Pendidikan
terakhir sarjana tingkat dua. Hal tersebut membuat lapangan kerja bagi lulusan sekolah
menengah/sederajat semakin sempit. Hanya sedikit lapangan pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja
dengan lulusan sekolah menengah. Bahkan, mereka yang lulusan sekolah menengah biasanya
ditempatkan di posisi menengah ke bawah dalam perusahaan dengan upah yang lebih kecil dibandingkan
dengan posisi menengah ke atas yang lebih banyak diduduki oleh tenaga kerja yang sudah memiliki gelar
perguruan tinggi.

Di Indonesia sebanyak lebih dari sepuluh persen lulusan sekolah menengah kejuruan tidak
mendapatkan pekerjaan. Hal ini dikarenakan mereka bersaing dengan lulusan sarjana maupun lulusan
sekolah menengah atas yang memiliki soft skill lebih baik ketimbang lulusan sekolah menengah kejuruan.
Selain itu, lebih banyak lingkungan pekerjaan yang lebih membutuhkan tenaga kerja di bidang keahlian
soft skill seperti copywriting, editing, penulisan surat, dan lain sebagainya yang lebih banyak diajarkan
pada siswa di sekolah menengah atas. Sehingga tenaga kerja lulusan sekolah menengah kejuruan selain
bersaing dengan tenaga kerja lulusan sarjana, mereka juga bersaing dengan tenaga kerja lulusan sekolah
menengah atas.
Kompetitif dalam Pekerjaan yang Dialami Tenaga Kerja Jurusan Arsitektur Lulusan SMK
Persaingan dalam lapangan pekerjaan juga dirasakan oleh beberapa tenaga kerja lulusan sekolah
menengah kejuruan dengan bidang keahlian arsitektur . Hanya beberapa dari lulusan sekolah menengah
kejuruan dengan bidang keahlian arsitektur melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi dan
memilih untuk melanjutkan bekerja. Namun, tentu saja mereka juga bersaing dengan lulusan lulusan
perguruan tinggi. Apalagi lebih banyak lowongan pekerjaan bidang Arsitektur yang menetapkan
kualifikasi Pendidikan minimal sarjana tingkat satu, bahkan ditambah dengan pengalaman bekerja dengan
minimal kurun waktu 2 tahun.
Menurut Ikatan Arsitektur Indonesia, Seseorang dapat diakui sebagai seorang Arsitek maupun
memiliki kualifikasi arsitektur yang baik jika ia telah memiliki pengalaman bekerja sekurang-kurangnya
dalam kurun waktu 2 tahun. Maka, setelah lulusan arsitektur memiliki pengalaman bekerja selama 2
tahun, ia akan mendapatkan lisensi sebagai arsitek yang baik atau dalam tanda kutip adalah ‘diakui’
sebagai seorang arsitek. Maka dari itu, tidak banyak lapangan pekerjaan bagi bidang keahlian arsitektur
bagi lulusan sekolah menengah kejuruan, dikarenakan pekerjaan arsitek merupakan pekerjaan yang sulit
dan memerlukan keahlian yang sangat akurat. Sehingga, biasanya tenaga kerja lulusan sekolah menengah
kejuruan dengan bidang keahlian arsitektur lebih banyak ditempatkan sebagai asisten drafter dibanding
kepala kontruksi.
Bukanlah hal yang tidak mungkin bahwa tenaga kerja lulusan sekolah menengah kejuruan
mendapatkan pekerjaan dengan posisi yang lebih tinggi. Ini dikarenakan mereka memiliki kinerja dengan
kualitas yang sangat baik sehingga dapat dipercaya untuk menempati posisi yang lebih tinggi. Perusahaan
juga melihat ketekunan dan kesungguhan seseorang dalam bekerja. Tidak sedikit juga tenaga kerja lulusan
sekolah menengah yang menduduki posisi yang lebih unggul dalam perusahaan dibanding tenaga kerja
lulusan sarjana. Karena, tidak sedikit juga tenaga kerja dengan gelar sarjana memiliki kinerja yang tidak
sesuai dengan kualifikasi perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *