Diskusi
Jika dilihat di lapangan, ada beberapa faktor yang menyebabkan banyaknya lulusan SMK tidak
terserap di dunia kerja dibandingkan dengan lulusan pendidikan lainnya. Diantaranya adalah banyak
lulusan SMK yang tidak sesuai dengan karakter daerahnya dan tingkat kebutuhan tenaga kerja di daerah
tersebut. Misalnya, di suatu daerah pariwisata maka jurusan yang perlukan adalah jurusan yang berkaitan
dengan pariwisata, bukan memperbanyak jurusan teknik. Namun, banyak yang mendirikan SMK tanpa
memperhatikan peta kebutuhan tenaga kerja di daerahnya yang mengakibatkan banyak lulusan SMK yang
menganggur dikarenakan mereka tidak sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja di daerah tersebut dan tidak
sedikit juga lulusan sekolah menengah kejuruan yang memilih untuk alih profesi artinyanya banyak yang
bekerja tidak sesuai apa yang dipelajari di bangku sekolah.
Selain itu, tidak semua SMK menerapkan standar keahlian yang sesuai dengan standar industri
pada setiap kelulusan siswanya yang mengakibatkan siswa lulusan SMK tidak memenuhi standar industri
dan belum bisa diterima dalam dunia industri.
Kemudian, kurangnya kualitas guru produktif yang masih rendah sehingga masih banyak guru
dengan latar belakang keilmuan yang tidak sesuai kompetensi keahlian yang ada di SMK merupakan
salah satu penyebab tingginya tingkat pengangguran dari lulusan SMK. Karena peranan guru di sekolah
sangatlah penting, kualitas guru produktif sangatlah diperlukan agar mencetak lulusan SMK yang
berkualitas pula.
Pada lulusan SMK jurusan DPIB (Desain Permodelan dan Informasi Bangunan) tidak sedikit
siswa yang menganggur, ada beberapa dari mereka yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi
karena dirasa pendidikan di SMK saja tidak cukup, namun ada juga lulusan Desain pemodelan dan
Informasi Bangunan yang memilih melanjutkan pendidikannya dengan lintas jurusan yang berarti target
dari lulusan SMK jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan belum tercapai secara merata,
karena setelah mewawancarai lulusan sekolah menengah kejuruan yang lintas jurusan bahwa tidak sedikit
yang merasa kurangnya minat dan keahlian di bidang arsitektur maka lebih memilih melanjutkan
pendidikannya tidak sesuai apa yang dipelajari ketika sekolah menengah kejuruan, namun adapula yang
bekerja di konsultan sebagai drafter, tetapi setelah mewawancarai yang bekerja sebagai drafter tersebut
ada yang merasa nyaman dan adapula yang merasa dirinya tertekan karena banyaknya pekerjaan yang
mereka terima selain itu juga perlu soft skill komunikasi yang baik karena pekerjaannya merupakan jasa.
Dapat diartikan bahwa penyebab banyaknya siswa lulusan jurusan DPIB tidak bekerja adalah karena
mereka merasa kompetensi yang mereka miliki belum memenuhi standar kompetensi yang ada pada dunia
indsutri. Hal tersebut mengakibatkan tingginya tingkat pengangguran dari lulusan SMK khususnya
jurusan DPIB. Selain itu, daya saing yang cukup tinggi juga menjadi penyebab siswa lulusan DPIB ini
menganggur, mengingat mereka juga bersaing dengan lulusan dari perguruan tinggi di jurusan tersebut.
Solusi
Untuk mengatasi permasalahan diatas, pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap sistem
pendidikan di SMK dengan memperhatikan jurusan-jurusan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan tenaga
kerja industri di setiap daerah agar keterserapan lulusan SMK di setiap daerah bisa terserap dengan baik.
Setiap sekolah perlu memenuhi kebutuhan fasilitas sarana dan pra-sarana yang mendukung para siswa
dalam belajar dan melakukan praktik di sekolah. Cara lainnya bisa dengan menyelenggarakan pelatihan
untuk para siswa SMK agar lulusan SMK nantinya memiliki keterampilan dan nilai tambah dalam
bersaing di dunia kerja, mengingat daya saing yang cukup tinggi di dunia kerja saat ini. Selain itu, perlu
adanya kerja sama antara sekolah dengan perusahaan di kalangan industri supaya ada jaminan untuk
lulusan sekolah tersebut bisa langsung bekerja di perusahaan yang menjalin kerja sama, sehingga
meminimalisir tingkat pengangguran khususnya dari lulusan SMK.
Terakhir, faktor penentu utama keberhasilan pendidikan di sekolah adalah guru. Semakin baik
kualitas guru di sekolah, akan menghasilkan lulusan yang berkualitas pula. Aspek kompetensi pedagogik
menyangkut tentang kemampuan seorang guru dalam mengembangkan dan menyampaikan informasi
dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik di sekolah, sehingga guru dapat
memenuhi kebutuhan peserta didik dalam belajar.
Kesimpulan
Lulusan sekolah menengah kejuruan di Indonesia masih banyak yang belum mendapatkan
pekerjaan karena banyaknya persaingan di industri dan kurangnya minat lulusan desain pemodelan
dan informasi bangunan dibidang arsitektur. Hanya ada beberapa dari lulusan sekolah menengah kejuruan
dengan bidang keahlian arsitektur melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi, tetapi adapula
yang memilih untuk lintas jurusan karena merasa bidang asritektur itu butuh keahlian khusus. Terlepas
dari kualitas lulusan kejuruan bahwa banyak perusahaan industri yang memilih tenaga kerja dengan
kualifikasi lulusan sarjana, karena perusahaan merasa lulusan sarjana lebih kompeten dalam softskill
maupun kemampuan lainnya.
Untuk mengatasi permasalahan diatas, ada beberapa solusi yang dapat dibenahi yaitu pemerintah
perlu melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan, setiap sekolah harus memenuhi kebutuhan fasilitas
sarana dan pra-sarana yang mendukung, serta perlu menyelenggarakan pelatihan untuk para siswa SMK
agar lulusan SMK nantinya memiliki keterampilan dan nilai tambah dalam bersaing di dunia kerja, selain
itu perlu adanya kerja sama antara sekolah dengan perusahaan di kalangan industri dan terakhir, yaitu
perlu guru yang berkualitas dan menguasai keahlian di bidang tertentu.
